Minggu, 28 Agustus 2022

MANUSIA ITU DINAMIS BUKAN STATIS

 


Banyak kita jumpai di dalam kelas ketika guru memberikan tugas kelompok hal yang paling dramatis adalah memilih kelompok. Ketika kita berhadapan dengan guru yang memang tipekal otoriter maka habis sudah guru tersebut jadi bahan gunjingan murid-murid karena mungkin sikapnya yang terlalu kejam menurut kalian dimana kalian sudah punya circle sendiri. Apa yang ada dibenak kita saat itu tidak salah karena memang kita akan nyaman jika kita kerja dengan orang yang sudah cocok dengan kita. Hal sebaliknya akan terjadi jika kita berkerja dengan teman yang tak sehati dengan kita, mungkin pada saat mengerjakan tugas mau ngobrol canggung, mau menyuruh tidak enak sendiri, mau mengkomando sangat kaku untuk memulai mungkin bahkan terjadi cekcok saat itu. Memang sih kita dihadapkan masalah yang mungkin mau tidak mau kita harus hadapi.


Beda lagi dengan guru yang ketika memberi tugas kelompok tapi mempercayakan pembagian kelompok kepada siswanya sendiri. Guru ini yang biasanya jadi idaman para siswa, karena mungkin anak-anak menganggap guru tersebut sangat mengerti kondisi siswanya. atau dalam bahasa gaming nya gurunya sudah pro.

Nah dari kedua kasus tersebut kita coba bahas dampaknya satu satu ya, saya rasa fair ketika kita berhadapan pada sebuah masalah maka dari masalah tersebut pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. 


Coba kita kekasus yang pertama dimana ada guru yang senangnya mengatur semua aktivitas anak-anaknya terlebih dalam pembagian kelompok. Kalau dari sisi siswa memang mayoritas siswa lebih memilih untuk bebas dalam memilih anggota kelompoknya. Sisi positif dari pemahaman ini adalah kita sebagai siswa bisa bekerja dengan nyaman dan senang karena berkumpul dengan circle kita sendiri yang notabenya watak dan perilaku teman teman sudah kita kenal. Namun sisi negatifnya adalah ketika jangka panjang nanti saat kita sudah tidak bersama dengan circle kita maka kita akan kesulitan untuk berinteraksi karena sejak dini kita sudah terbiasa sengan circle kita. Nah, jadi ada sisi positifnya kita untuk berada dikelompok yang berbeda.


Perlu kita ketauhi bahwasanya manusia itu dinamis bukan statis, maksudnya kita sebagai manusia tidak kaku ada perubahan-perubahan yang secara alami akan kita hadapi. Dinamis itu selalu ada perubaha, sedangkan statis itu tetap tidak mengalami perubah secara signifikan.


semoga bermanfaat yaa gaes.

Kamis, 25 Agustus 2022

BERANI MENJADI IMAM

 



Tidak ada kata terlambat, mendidik anak adalah hal yang wajib dilakukan guru. Tidak hanya guru yang ada di sekolah tetapi juga ada guru yang ada di rumah. Anak merupakan aset dan investasi masa depan keluarga,negara,dan agama. Di SMP Muhamamdiyah 2 surabaya ada program muhadoroh bagi anak anak baik laki-laki atau perempuan. 

Program ini dijalan dibawah tanggung jawab Ketua Ismuba yakni ustad Umar panggilan akrabnya. Dengan program ini diharapkan anak mampu melatih dirinya untuk menjadi pendakwah dan pemimpin shalat dimana saja mereka berada kelak. 


Hari ini ananda rosheed dari kelas 9D mendapat giliran untuk memberikan kultum dihadapan teman-temannya. Semoga ananda rosheed bisa memulai dan mencetak mentalnya untuk masa depan yang lebih baik. Semoga juga program muhadoroh yang dilaksanakan setiap menjelang shalat jumat menjadi program yang diberkahi Allah swt. Aminn ya rabbal alamin..

PRAKARYA DAN PERKEMBANGAN JAMAN

 Berfikir untuk perubahan itu sebuah hal yang harus dimiliki seorang guru. Apalagi dalam menghadapi perkembangan peserta didik. 

Tidak hanya memberikan materi dikelas tapi juga harus bisa memberikan berbagai kegiatan yang menunjang materi yang sedang diajarkan. Memang harus membutuhkan persiapan yang matang ketika seorang guru memberikan kegiatan yang menunjang materi yang akan diajarkannya. Seperti contoh pada pembelajaran Prakarya yang sedang dilakukan oleh teman kami yakni ustadzah vivi handayani, atau lebih akrab disapa bunvi. Beliau tergolong guru senior di sekolah kami yang layak untuk di tiru perjuangan dalam dunia pendidikan. 

Beberapa waktu lalu beliau sedang mengajarkan siswa nya untuk memasak. Padahal kita tahu bahwa 20 th yang lalu memasak adalah pekerjaan seorang wanita. Namun dengan berbagai perkembangan zaman seperti saat ini memasak juga bisa dilakukan oleh anak laki-laki, seperti halnya program master chef yang ada di televisi. 

Hari itu beliau mengajarkan kepada siswa laki-laki tentang memasak karena sudah jamannya untuk mengikuti trend yang sudah berkembang di dunia ini. Banyak sekali respon positif dari anak anak ketika saya tanyai tentang kesannya pada pelajaran prakarya. Salah satunya Husen yang saat itu kelompoknya tidak membawa bahan untuk dimasak, dia senang sekali karena ada tantangan baru di kelasnya dan tidak boleh malu untuk memasak bagi siswa laki-laki.